Bekisahan Sepenggal Buku "Laut Bercerita"
Hai sahabat….
Aku mau bercerita sedikit tentang beberapa pendapat aku
setelah membaca buku ini, buku yang berjudul “Laut Bercerita”.
Awalnya aku tau buku ini dari
salah satu seorang anak peserta didik yang bertanya kepadaku, “Apakah di
perpustakaan ini ada buku laut bercerita”. Aku pun mulai bertanya kembali, "Buku
apa itu? Apakah buku tentang sains? Apakah itu buku tentang segala macam biota
laut? Atau buku ensiklopedia tentang laut? Atau apa??". Karena sebagai seorang
pustakawan, aku berkewajiban untuk tahu tentang sesuatu yang diperlukan oleh seorang
pemustaka. Kemudian pemustaka tersebut menjawab, “itu adalah sebuah novel,
ceritanya seru, dan lagi boming sekarang”. Stelah dia mendeskripsikan buku
tersebut, lalu aku pun mencari tahu tentang buku tersebut.
Bulan puasa, tahun 2022, disebuah
gramedia aku menepi sembari menunggu waktu untuk berbuka. Mata ku tertuju
dengan setumpuk buku berwarna biru, berjudul “Laut Bercerita”, dengan gambar cover
buku yang menarik yang dihiasi oleh sepasang kaki yang terborgol, dikelilingi
ikan-ikan yang berada di kedalam laut. Aku dekati rak buku tersebut, aku amati
buku yang masih tersegel dengan rapi oleh plastik. Aku baca bagian belakang
cover buku tersebut, aku resapi. Jakarta, 1998 adalah kata kuncinya. Bukan berbicara
tentang ensklopedi biota laut, bukan bercerita tentang sains kehidupan biota
laut, bukan bercerita tentang kedalaman laut dengan segala isinya, melainkan tragedi
1998.
Sebuah novel karya Leila S.
Chudori. Tragedy 1998 dengan hilangnya para aktivis. Jiwa penasaranku muncul dan
mengalahkan kondisi isi dompetku. Itulah jiwa, itu perasaan, kadang memang tak
sadar akan logika. Akhirnya aku membawa buku berwarna biru tersebut dan
menghampiri seorang kasir yang ramah dengan senyum merekahnya, seolah-olah
mengisyaratkan, “wahh, sumber uang sedang menghampiriku”.
Setelah semua transaksi itu
terjadi. Aku tidak mencari tahu tentang buku ini di internet. Aku hanya mencari
siapa penulisnya, apa nama instagram penulisnya. Hanya sebatas itu. Karena aku
ingin mengenal buku “Laut Bercerita” dari pengenalan langsung, bukan dari apa
kata riview seseorang. Aku ingin mendalaminya secara langsung tanpa terpengaruh
opini-opini orang-orang diluar sana yang telah selesai membaca buku tersebut.
Aku lupa tepatnya kapan dan
tanggal berapa aku mulai membaca buku ini, tapi yang jelas aku membacanya saat
bulan puasa di minggu kedua. Awalnya aku membacanya dengan aman dan tentram
selama 5 hari. Sampai pada halaman 328, hampir diakhir penutup, bacaan itu
semua terhenti. Terhenti dikarena kesibukan perkerjaan yang lainnya. 1 bulan
lebih aku tidak membacanya, hanya cukup
memandanginya dari balik laptop. Sesekali aku menatap buku tersebut, ingin
membacanya, tetapi rasanya badan ini sudah ingin berbaring saja dan tetap harus
mengerjakan tugas-tugas yang lain. Aku sangat meyakini, jika ku paksakan untuk
membacanya dalam keadaan pikiran yang tidak tenang, maka isi makna buku
tersebut tidak bisa ku dalami. Bagiku, hanya sekedar membaca bukanlah inti dari
sebuah buku dibuat. Tetapi pencapaian arti makna buku adalah yang bisa
membuatmu menangis, terharu, tertawa dan kadang ikut emosi. Kau larut dalam
sebuah cerita buku tersebut adalah puncaknya. Khayalan mu mampu menggambarkan makna isi buku tersebut adalah puncaknya. Maka dari situ, aku putuskan untuk fokus
terhadap pekerjaan ku dan memunda membacanya untuk sementara waktu, hingga 1
bulan lebih ternyata buku itu terbengkalai, di atas tempat tidur, bukan di rak
buku.
Bagiku rak buku bukanlah tempat
persinggahan yang bagus untuk buku yang masih menunggu untuk kita baca. Rak buku
hanya cocok untuk buku-buku yang belum ingin kita baca dan untuk buku yang
sudah kita baca. Sedangkan untuk buku yang sedang kita baca dan menunggu untuk kita
baca adalah sebaiknya berada di atas tempat tidur, di dalam tas, di atas tumpukan
baju, di samping saat kita tidur. Karena hal tersebut menandakan buku tersebut
ingin segera kita selesaikan, namun ada hal lain yang menundanya untuk
sementara waktu, tapi bacaan tersebut jangan sampai terlupakan untuk dibaca.
Okeeeee..
Kita beralih ke inti pendapat aku tentang buku ini ya….
Singkat saja, tidak perlu panjang lebar kali.
Buku ini bercerita tentang seorang
anak-anak aktivis, yang masih bersikap idealis, dan salah satu anak tersebut
bernama “Biru Laut”. Makanya buku ini berjudul “Laut Bercerita” yang artinya
menceritakan kehidupan anak yang bernama Laut. Aku rasa, sikap idealis ini sangat
wajar dimiliki oleh para mahasiswa. Dulu aku rasakan hal yang sama seperti itu. Tapi apakah
sikap idealis tersebut bisa dibawa kedalam ranah dunia kerja? Entahlah.
Okeee, kita lanjuttt..
Menurutku buku ini keren,
ceritanya naik turun dari segi waktu. Kadang kita di ajak ke tahun 1991,
kemudian 1998, lalu turun lagi ke 1993. Hal tersebut agar kita tahu runtutan
cerita-cerita sebelumnya, agar nyambung saat dibaca, dan mengerti “oooohh ini
maksudnya”.
Diawal-awal cerita, buku ini
belum menguras emosi. Masih santaiiii. Dan aku pun sudah beranggapan, “Ah,
biasa-biasa aja lah ceritanya, nggak ada yang menarik”. Tetapi semakin dibaca
lembar demi lembar, masuk halaman pertengahan, emosi sudah mulai diusik. Sudah mulai
muncul rasa-rasa penasaran untuk membaca lembar demi lembar halaman buku berikutnya. Sangking semangatnya tuuu, ada satu hari khusus meluangkan waktu untuk membacanya, karena
sudah mulai memainkan emosi dan perasaan.
Hari demi hari berlalu, sampailah pada bab bab terakhir. Rasa penasaran tersebut di putus dengan adanya pekerjaan lain, dan akhirnya baru terselaikan pada hari ini, hari dimana aku menulis tulisan ini. Hari Sabtu di jam 4 sore Waktu Indonesia bagian Tengah. Aku membacanya selama 1 jam. Dengan air mata yang tak tertahankan namun masih bisa ditahan karena aku membacanya berada ditempat umum. Dipenghujung ceritanya sangat-sangat menyedihkan.
Kesimpulan semuanya terangkum dihalaman-halaman terakhir. Bagaimana
traumatiknya para aktivis yang selamat saat kejadian berlangsung. Bagaimana kondisi
psikis para keluarga korban aktivis yang hilang tanpa kabar. Apakah anak-anak mereka masih hidup atau sudah tiada?, kalau sudah tiada dimana jasadnya?, dimana makamnya?, semua pertanyaan itu terus menyelimuti para keluarga korban selama bertahun-tahun lamanya. Rumah-rumah yang tadinya nyaman, menjadi bayangan semu penuh
kenangan yang tak ingin dilupakan. Cerita seorang adik yang mencoba
untuk selalu kuat bertahan ditengah-tengah kondisi orangtua yang sedang tidak
baik-baik saja dengan kepergian sang kaka. Adanya seorang kekasih yang
kehilangan arah setelah ditinggal kekasihnya hilang entah dimana keberadaannya dan entah dimana jasadnya.
Baiiikk, aku tidak akan
menceritakan lebih dalam tentang buku ini. Aku hanya ingin menyampaikan buku
ini keren. Cerita fiksi yang dibangun dari cerita nyata.
Selamat membaca, untuk kalian, jiwa-jiwa penasaran.
Berikut adalah kata-kata yang aku kutip dari buku “Laut
Bercerita”, yang menurutku aku suka.
“Semakin
aku tumbuh dan semakin melahap banyak bacaan perlahan aku menyimpulkan bahwa
ada dua hal yang selalu menghantui orang miskin di Indonesia: kemiskinan dan
kematian”. (Laut Bercerita: 28)
“Aku hanya
ingin kau paham, orang yang suatu hari berkhianat pada kita biasanya adalah orang
yang tak terduga, yang tak kau kira adalah orang yang mustahil melukai
punggungmu”. (Laut Bercerita: 31)
“Kau
tak akan bisa memperolehnya dengan bersembunyi. Kau harus menghampirinya dan
menggenggam tangannya tanpa pernah melepaskannya lagi”. (Laut Bercerita: 43)
“Jangan takut
kepada gelap. Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. pada setiap
gelap ada terang meski hanya secercah.” (Laut Bercerita: 225)
"Ketidaktahuan
dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan.” (Laut
Bercerita: 256)
“Bagi
kebanyakan mahasiswa Indonesia, skripsi adalah salah satu syarat yang berat
yang harus mereka lalui agar bisa segera menggondol gelar yang sudah
diburu-buru orangtua masing-masing.” (Laut Bercerita: 286)
“Rasa ingin tahu adalah kualitas
terbaik dalam jurnalisme”. (Laut Bercerita: 327)

Komentar
Posting Komentar